Pentingnya Mensyukuri Hidup

Ketika berbicara tentang syukur, saya teringat sebuah cerita tentang tukang pos yang pernah saya baca semasa sekolah dasar dulu. Kurang lebih ceritanya seperti ini:

Alkisah, ada seorang tukang pos yang bekerja mengantarkan surat setiap harinya. Dia memiliki semangat kerja yang tinggi. Dia tetap mengantar surat bagaimanapun kondisi yang dia hadapi, cuaca panas dan hujan tidak berpengaruh baginya. Apapun yang terjadi tidak ada yang bisa menghentikan tukang pos untuk mengantar surat.

Namun suatu ketika dalam kondisi kelelahan tukang pos itu melihat ada seorang walikota melintas dengan menggunakan mobil mewah.

“Kelihatannya nyaman sekali menjadi Walikota” pikir tukang pos itu “Walikota naik turun mobil tanpa harus mengayuh sepeda, mau apapun tinggal minta tolong bawahannya.” dan dia pun berdoa meminta agar dijadikan seorang walikota.

Tanpa disangka-sangka, ternyata doanya terkabul. Tiba-tiba saja si tukang pos itu menjadi seorang walikota.

Dia pun melakukan tugasnya sebagai Walikota. Melaksanakan rapat, kunjungan ke berbagai tempat dan banyak lagi tugas lainnya termasuk berpidato. Ketika sedang berpidato di ruangan terbuka, dibawah terik matahari dia pun merasa kepanasan.

Dia pun berpikir, “Seandainya saya menjadi matahari, pasti menyenangkan, saya lebih berkuasa daripada walikota.”

Dan ternyata harapannya terkabul lagi. Walikota yang dulunya tukang pos, kini menjadi matahari.

Dia menyinari bumi sampai-sampai orang-orang pun kepanasan. Dia merasa paling berkuasa sekarang. Tapi dia masih merasa dihalangi oleh awan. Walaupun matahari bersinar terik awan masih bisa menghalanginya.

Lagi-lagi dia berpikir, “Sepertinya menjadi awan lebih enak, tidak akan ada lagi yang menghalangi.”

Dan kembali harapannya terkabul. Dia kini menjadi awan. Dengan menjadi awan, dia benar-benar merasa tidak ada yang menghalanginya. Dia bisa menurunkan hujan, bahkan badai. sehingga orang-orang tidak bisa beraktifitas dengan normal.

Tapi ia masih terganggu oleh satu orang.., yaitu tukang pos.

Karena hujan sederas apapun, atau matahari seterik apapun, tukang pos masih bekerja. Tukang pos tetap mengantarkan surat walaupun panas dan hujan. Dan dia merasa sangat terganggu. Dan akhirnya dia minta dikembalikan untuk menjadi tukang pos.

Cerita diatas jelas bukan cerita yang benar-benar terjadi. Walaupun mungkin seorang tukang pos menjadi walikota, tetapi tidak mungkin seseorang menjadi matahari atau awan. Tidak ada sejarahnya manusia menjadi matahari atau awan.

Tapi cerita diatas bisa kita ambil hikmahnya. Cerita diatas sebenarnya mencerminkan kehidupan keseharian kita yang seringkali merasa tidak cukup atas apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Selalu melihat bahwa “rumput tetangga lebih hijau.”

Dalam suatu survey di Amerika. Ketika sejumlah orang diminta untuk memilih salah satu dari 13 unsur dasar kehidupan mereka yang paling memuaskan. Hasilnya, hanya sedikit dari mereka yang menyatakan puas dengan apa yang mereka miliki.

Hampir tidak ada orang yang merasa kaya. Dalam sebuah jajak pendapat, para responden mengatakan 21% orang Amerika adalah orang kaya. Akan tetapi hanya separuh dari 1% yang menyatakan kalau diri mereka kaya.

Disana, orang yang menghasilkan 10 ribu dollar setahun merasa yakin kalau orang yang berpenghasilan 50 ribu dollarlah yang kaya. Mereka yang berpenghasilan 50 ribu dollar mengira orang yang berpenghasilan 200 ribu dollarlah yang kaya. Dan mereka yang berpenghasilan 200 ribu dollar masih merasa terbebani dengan berbagai tagihan yang membengkak dan masih tetap merasa kekurangan.

Saya pikir hasil survey tersebut tidak jauh dari kehidupan orang Indonesia. Kita menganggap orang lain kaya, padahal orang yang kita anggap kaya itu masih merasa kekurangan.

Jadi dari penelitian diatas dan juga kehidupan sehari-hari kita dapat diambil kesimpulan bahwa permasalahan manusia dewasa ini adalah tiadanya rasa cukup atas apa yang kita miliki. Dan itulah yang membuat kita menderita. Namun malangnya kita tidak menyadari itu.

Kita seringkali merasa kekurangan. Lalu berusaha sekuat tenaga, bahkan sampai menghabiskan sebagian besar waktu yang kita miliki untuk menutupi rasa kekurangan itu.

Namun pada kenyataannya rasa kekurangan itu tidak akan pernah bisa tertutupi.

Dan Baker P.hd menerangkan hal ini dengan baik dalam bukunya What Happy People Know “Hadapilah kenyataan” ujarnya, “Perasaan kekurangan terpatri dalam otak anda. Anda mungkin tidak akan pernah merasa punya cukup uang. Inilah saatnya anda untuk menerima perasaan ini. Dan bangkit untuk mengendalikannya”

Yang dimaksud oleh Dan Baker adalah seberapa banyakpun uang yang kita miliki, kita akan masih merasa kekurangan. Karena rasa kekurangan ini telah tertanam dalam otak manusia. Tepatnya dalam sistem pengendali rasa takut amygdala, begitu kata Dan Baker.

Lalu sekarang yang jadi pertanyaan, bagaimanakah caranya agar kita bisa mengendalikan rasa takut akan kekurangan tersebut ? Dan Baker mengatakan sebaiknya pengendalian rasa takut akan kekurangan tersebut diserahkan pada kekuatan intelegensia dan jiwa.

Dalam tradisi kita hal ini bisa diterjemahkan dengan sikap bersyukur. Yaitu dengan mensyukuri apapun yang kita miliki saat ini. Jadi kuncinya adalah dengan melatih diri kita untuk bisa mensyukuri apapun yang kita miliki.

Iklan

Niat Energi dan Intuisi

Niat awal dalam melakukan suatu pekerjaan memiliki kedudukan yang penting. Saking pentingnya umat muslim melalui imam Nawawi dapat menemukan hadits tentang niat diurutan yang pertama pada kitab 40 haditsnya. Bagaimana niat ini menjadi sedemikian penting ?

Ternyata ada fakta menarik yang bias kita telusuri secara ilmiah tentang apa yang kita sebut dengan niat. Dari sudut pandang fisika quantum, semua makhluk di bumi ni memancarkan energy, dan energy yang dipancarkannya membawa serangkaian informasi. Yang dimaksud dengan energy disini adalah energy yang menyelubungi tubuh fisik kita, yang luasnya sepanjang rentang tangan dan setinggi badan kita. Menurut Caroline Myss seorang praktisi intuitive medis, medan energy tersebut merupakan pusat informasi sekaligus medan perceptual yang sangat sensitive. Dengan begitu, sebenarnya kita dapat menerima dan menyampaikan informasi hanya melalui aktifitas pikiran kita. Itulah yang sering kita sebut sebagai intuisi.

Niat, menurut Carol Adrienne, seorang trainer pengembangan intuisi adalah aktifitas akal—dikuatkan oleh keinginan hati—yang menghendaki sesuatu terjadi. Niat adalah maksud atau tujuan dibalik awal suatu tindakan.

Lalu apa hubungan antara niat, energy, dan intuisi ? singkatnya seperti ini, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa niat adalah aktifitas pikiran. Dan energy yang kita miliki dikendalikan oleh aktifitas pikiran, yang juga menyampaikan informasi dari pikiran kita. Sedangkan intuisi merupakan informasi yang kita terima melalui medan energy kita, terkadang kuat dan terkadang samar tergantung sensitifitas kita. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dalam tataran energetic sebenatnya kita saling mempengaruhi satu sama lain. Jika anda pernah mengalami firasat buruk, misalnya, dan membatalkan suatu kegiatan karena firasat buruk tersebut maka tindakan anda telah berdasarkan intuisi. Jika begitu, niat dalam tataran energetic merupakan suatu tindakan juga. Karena dengan memiliki niat yang kuat kita telah menyampaikan informasi ke dunia luar melalui energy kita. Semisal, kita memiliki tujuan tertentu, dan kita memiliki niat yang kuat untuk mewujudkan tujuan tersebut bagaimanapun caranya. Dengan seperti ini kita telah menyampaikan informasi kapada alam semesta dan mengundang orang-orang yang sesuai dengan tujuan kita tanpa mereka sadari. Dan kita menemukan orang-orang yang sesuai dengan kita melalui kejadian yang seolah-olah kebetulan. Atau istilah lain dari fenomena ini adalah providence. Apa anda pernah mengalaminya ?

Jadi mulailah segala sesuatu dengan niat yang bail, bersungguh-sungguh dan penuh keyakinan. Selanjutnya biarkan kecerdasan semesta yang mengatur berbagai kesesuaian untuk kita. Tentunya tindakan kita pun harus berada di arus yang searah dengan tujuan yang kita niatkan. Lalu bagaimanakah seharusnya niat itu ? Tunggu tulisan saya selanjutnya OK.